Analisis pemasaran

Rabu, 02 Mei 2012





ANALISIS PEMASARAN TERUNG (Solanum Melongena l) DI DESA MUJIMULYO,KECAMATAN NATAR,LAMPUNG SELATAN
                                       (Tugas Responsi Tataniaga Pertanian)






Oleh:

Dani Pramaditya Trisnata                               0914023042
Dimash Septian Adi Putra                              0914023110
Fitri Kusumawati                                            0914023056
Maulina Tunjungsari                                       0914023080








JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012



PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang

Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam kehidupan perekonomian daerah lampung, oleh sebab itu sektor pertanian harus terus dikembangkan. Pengembangan pertanian melalui pemberdayaan perekonomian rakyat dengan pendekatan agribisnis akan mencapai pertanian yang maju, efisien, dan tangguh. Salah satu subsektor dalam sektor pertanian yang potensial dalam menunjang pembangunan ekonomi adalah subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan dan hortikultura. Salah satu komoditi tanaman hortikultura yang banyak dikonsumsi dan diolah oleh masyarakat adalah terung.

Terung (Solanum Melongena l) merupakan tanaman asli daerah tropis. Tanaman ini diduga berasal dari benuaAsia, terutama India dan Birma. Daerah penyebaran tanaman terung padamulanya terkonsentrasi dibeberapa negara (wilayah), antara lain di Karibia,Malaysia, Afrika Barat, Afrika Tengah, Afrika Timur, dan Amerika Selatan.Lambat laun tanaman ini menyebar ke seluruh dunia, baik negara-negara yangberiklim panas (tropis) maupun iklim sedang (sub tropis). Pengembangan budidaya terung paling pesat di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.Buah terung adalah jenis sayuran yang sangat populer dan disukai olehbanyak orang. Selain karena rasanya enak dan lezat untuk dimakan khususnyadijadikan sebagai bahan sayuran atau lalapan, juga mengandung gizi yangcukup tinggi, terutama kandungan Vit A sebesar 30,0 SI dan Fosfor sebesar37,0 mg per 100 g buah terung

Komoditas terung ini cukup potensial untuk dikembangkan sebagai penyumbang terhadap keanekaragaman bahan panganbergizi bagi penduduk. Terung merupakan produk hortikultura yang bersifat mudah rusak apabila tidak ditangani secara tepat dan benar. Oleh karena itu,usaha pengolahan terung menjadi beberapa produk olahan makananmerupakan suatu alternatif yang cocok untuk dilakukan. Di samping dapat
mencegah terung mengalami penurunan kualitas (pembusukan), juga dapat meningkatkan nilai ekonomis terung. Dilihat dari nilai ekonomisnya Terung sangat murah di pasaran, mudahdidapat dan sepanjang tahun ada, karena jumlah yang melimpah tersebut makaharga terung menjadi sangat murah.

Terung yang banyak dijumpai di pasaran biasanya terung jenis kopek dengan warna ungu dan hijau keputihan dengan bentuk bulat panjang (silinder) danbesar dengan diameter 4 – 6 untuk terung warna ungu dan 6 – 10 untuk terungwarna hijau keputihanSebagian besar masyarakat umumnya baru mengenal danmemanfaatkan terung sebagai bahan sayuran dalam hidangan atau menupelengkap sehari-hari. Buah terung yang digoreng dapat dihidangkan dengansambal terasi, selain sebagai bahan sayur buah terung dapat digunakan sebagaiobat tradisional


1.2.             Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari adanya makalah mengenai penelitian tataniaga tanaman terong di daerah Mujimulyo ini diantaranya  adalah untuk :

1.      Menganalisa saluran pemasaran terong di desa Mujimulyo, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.
2.      Mengetahui analisis margin pemasaran tanaman terong di desa Mujimulyo, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.
3.      Mengetahui prospek agribisnis tanaman terong,



II. TINJAUAN PUSTAKA


Syarat Tumbuh Terong
Terung sangat mudah dibiakkan karena ia dapat hidup di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi sekitar 1.200 m dpl. Namun demikian, tanah itu harus memiliki cukup banyak kandungan bahan organik dan berdrainase baik. Selain itu, pH tanah harus berkisar antara 5-6 agar pertumbuhannya optimal.
- Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi
- Suhu udara 22 - 30o C
- Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dan drainase baik dan pH antara 6,8-7,3
- Sinar matahari harus cukup
- Cocok ditanam musim kemarau

Benih Dan Persemaian 
Benih terung sebaiknya disemaikan dulu sebelum ditanam pada lahan yang tetap. Pembuatan bedengan dan cara penyemaian terung tidaklah berbeda seperti perlakuan pada tomat. Hanya saja kebutuhan benih terung berbeda dengan benih tomat. Untuk lahan seluas 1 ha, diperlukan 500 g benih terung dengan daya kecambah 75070. Bibit terung berada di persemaian hingga berumur kurang lebih 1,5 bulan atau kira-kira telah berdaun empat helai. Setelah itu bibit terung sudah siap untuk dipindahkan di lahan penanaman.



Penanaman
Lahan penanaman disiapkan dan diolah terlebih dahulu, kemudian di bentuk bedengan. Bedengan dibuat selebar antara 1,2 – 1,4 cm dan panjang sesuai lahan. Kemudian bedengan dibuatkan lubang tanam masing-masing berjarak sekitar 60 cm. Jarak antarbarisan lubang tanam 70-80 cm. Setiap bedengan memuat dua barisan tanaman. Di antara bedengan, haruslah dibuat parit yang berfungsi sebagai jalan dan pembuangan air saat musim hujan. Hal ini penting dilakukan karena terung tidak tahan genangan air. Selanjutnya setiap lubang tanam diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5-1 kg agar tanah cukup mengandung bahan organik. Setelah lahan disiapkan, sebaiknya bibit yang telah siap tanam dimasukkan secara tegak lurus ke dalam lubang tanam. Kemudian di sekitar lubang tanam disirami air agar tanah cukup lembap, tetapi tidak sampai tergenang.

Pemeliharaan Terong
Setelah tanam, penyiraman dilakukan kembali setiap 3 hari sekali hingga saat berbunga. Ketika masa berbunga, penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Namun, apabila penanaman dilakukan pada daerah kering, maka penyiraman dapat dilakukan lebih sering agar tanaman tidak layu kekeringan. Pemupukan pada terung dilakukan tiga kali, yaitu sebagai pupuk dasar, susulan I, dan susulan II. Pupuk dasar diberikan saat tanah mulai diolah, pupuk susulan I diberikan 7 -14 hari sesudah tanam, dan pupuk susulan II diberikan saat tanaman mulai berbunga. Dosis pemupukan bervariasi untuk setiap jenis terung dan jenis tanahnya, lihat pada Tabel berikut.

Waktu Dan Dosis Pemupukan Terung 
No Jenis pupuk Total Pupuk Dasar Pupuk susulan I II 1. Pupuk kandang 15 ton 15 ton 2. Urea 300 kg 100 kg 100 kg 100 kg 3. TSP 200 kg 200 kg 4. KCI 200 kg 200 kg Sumber : Rush Hukum, kk.,1990. Pemeliharaan selanjutnya seperti penyiangan dan pendangiran dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Namun, bila dirasa perlu, penyiangan dan pendangiran dapat dilakukan lebih sering. Tanaman terung memerlukan penyangga agar cabang lateralnya tidak raboh terkena angin atau hujan. Ajir dapat dibuat dari bambu atau kawat setinggi 60-90 cm.

Pemanenan
- Buah pertama dapat dipetik setelah umur 3-4 bulan tergantung dari jenis varietas
- Ciri-ciri buah siap panen adalah ukurannya telah maksimum dan masih muda.
-Waktu yang paling tepat pagi atau sore hari.
- Cara panen buah dipetik bersama tangkainya dengan tangan atau alat yang tajam.
- Pemetikan buah berikutnya dilakukan rutin tiap 3-7 hari sekali dengan cara memilih buah yang sudah siap dipetik.
Umur terung yang dapat dipanen tergantung dari varietas yang ditanam. Namun, secara umum terung dapat dipanen sekitar 4 bulan atau 90 hari sejak semai. Selanjutnya selang seminggu sekali, buah terung dapat dipanen 6-7 kali. Dalam pemanenan, diperhitungkan pula lama pengangkutan sampai ke tangan konsumen. Sebaiknya terung yang dipetik adalah buah muda yang bijinya belum keras dan daging buahnya belum liat. Apabila pengangkutan memerlukan waktu lama, maka sebaiknya terung dipetik sebelum masak, tapi sudah tampak bernas (berisi). Waktu panen sebaiknya dilakukan saat pagi hari atau sore hari. Hindari waktu panen saat terik matahari karena dapat mengganggu tanaman dan membuat kulit terung menjadi keriput (kering) sehingga menurunkan kualitas. (Gruben dan H. Sutarno. 1995)

Tataniaga adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen secara paling efisien dengan maksud untu mencapai permintaan permintaan yang efektif. Permintaan efektif di sini dimaksudkan adalah keinginan untuk membeli yang dihubungkan dengan kemampuan untuk membayar.
Ruang lingkup tataniaga memberikan gambaran bahwa kegiatan tataniaga tidak hanya menyalurkan barang dan jasa. Sepanjang aliran barang tersebut hingga ke konsumen akhir bermacam-macam aktivitas yang dapat dilakukan sesuai dengan fungsi tataniaganya. Hal ini menyangkut fungsi fungsi-fungsi pertukaran, fisik dan fasilitas.
Pemasaran adalah suatu kegiatan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Struktur pasar didefinisikan sebagai karakteristik organisasi suatu pasar yang menetukan hubungan saling keterkaitan antara penjual satu sama lain, hubungan antara pembeli dengan penjual, serta hubungan antara penjual di pasar dengan penjual potensial yang akan masuk pasar. Suatu gugus yang cocok untuk merumuskan kondisi pasar yang dapat mengoptimumkan kemakmuran social memaksimalkan efisiensi tataniaga komoditi di negara-negara yang sedang berkembang dalam struktur pasar, yaitu:
1. Ukuran jumlah pembeli dan penjual yang dapat menjamin suatu intensitas persaingan yang memadai dalam hal harga dan kualitas.
2. Bebas keluar masuk pasar.
3. Jumlah penjual yang memadai untuk mendorong peningkatan investasi dalam usaha niaga.
Perilaku pasar adalah pola tingkah laku dari lembaga pemasaran dalam hubungannya dengan sistempembentukan harga dan praktek transaksi –melakukan pembelian dan penjualan — secara horizontal maupun vertikal. Suatu gugus yang cocok untuk merumuskan kondisi pasar yang dapat mengoptimumkan kemakmuran social memaksimalkan efisiensi tataniaga komoditi di negara-negara yang sedang berkembang dalam perilaku pasar, yaitu:
1. Praktek-praktek penentuan harga yang mendorong grading dan standardisasi.
2. Seragamnya biaya pemasaran.
3. Praktek- praktek penentuan harga bebas dari kolusi dan taktik yang tidak jujur atau perdagangan gelap.
4. Kebijaksanaan harga yang mendorong perbaikan mutu produk dan meningkan kepuasan konsumen. (Nitisemito ,1992)

Secara umum yang dimaksud dengan marjin tataniaga (marketing margin) adalah perbedaan harga-harga pada berbagai tingkat sistem tataniaga. Dalam bidang pertanian marjin tataniaga dapat diartikan sebagai perbedaan antara harga pada tingkat usahatani (Pt) dan harga di tingkat eceran (Pr).
Analisis korelasi harga adalah suatu analisis yang menggambarkan seberapa jauh perkembangan harga suatu barang pada dua tempat / tingkat yang sama atau berlainan yang saling berhubungan melalui perdagangan. (Hasyim, 1994).

AVRDC (2004) mengemukakan bahwa usaha tani sayuran dilakukan dengan beberapa alasan yaitu: sayuran merupakan diet yang sehat, sayuran membuat hidup lebih produktif, dan sayuran sangat penting dalam menunjang perekomian yang kuat. pendapatan petani, yang walaupun bervariasi dengan tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya. Produksi sayuran total di Asia Tenggara sebesar 30.3 juta ton dari total produksi di Asia sebesar 124 juta ton pada tahun 2005, yang menurut Weinberger dan Lumpkin (2008) diperkirakan senilai USD 12.6 milyar. Kenaikan produksi akan sangat sulit diprediksi pada 25-30 tahun yang akan datang. Usaha tani sayuran memiliki nilai penting bagi masyarakat pedesaan, sebagai rotasi budidaya padi. Usaha tani sayuran umumnya dilakukan setelah panen padi di dataran rendah atau medium, sedangkan di dataran tinggi pada tanah tegalan dilakukan sepanjang tahun selama ketersediaan air mencukupi. Panca usaha tani merupakan teknik budidaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, antara lain penggunaan bibit unggul dan pengendalian hama penyakit tanaman. Kedua hal tersebut sangat berkaitan, karena varietas-varietas yang beredar dipasar memiliki ketahanan terhadap organisme pengganggu yang berbeda-beda. Hal ini berarti pemilihan varietas yang tepat sangat menentukan keberhasilan usaha tani.

Arah pembangunan jangka panjang Indonesia tertuang dalam GBHN, adalah pembangunan ekonomi yang merata dengan sasaran utama untuk mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang industry,Serta terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat.Pembangunan Hortikultura yang meliputi tanaman sayur-sayuran, Buah-buahan, Tanaman hias dan Tanaman obat di tumbuh kembangkan menjadi agribisnis dalam memanfaatkan peluang dan keunggulan komperatif berupa iklimyang bervariasi,Tanah yang subur,Tenaga kerja yang banyak ,dan Luas lahan yang tersedia. Produk hortikultura di tumbuh kembangkan terutama melalui koperasi agar mampu mencukupi kebutuhan pasar dalam negri termasuk agroindustri serta memenuhi kebutuhan luar negeri.
Sektor pertanian masih sangat strategis,hal ini tampak dari struktur angkatan kerja yang masih bertumpu pada sector pertania. Mengingat sektor pertanian merupakan sektor basis ,maka program pembangunan ekonomi khususnya bidang usaha pertanian baik oleh pemerintah ataupun swasta harus difokuskan pada pengembangan sector agribisnis dan sector agroindustri.
Perkembangan komoditi hortikultura memberikan nilai tambah bagi pertanian di indonesia. Terung sebagai salah satu komoditi hortikultura yang banyak di kembangkan oleh para petani (Santika,1995:1).
Produktivitas hasil pertanian selalu mengalami fluktuasi, sedangkan harga hasil pertanian ditingkat produsen cenderung mengalami peningkatan yang cukup berarti, hal ini diduga berkaitan dengan rendahnya produktivitas dari hasil pertanian. Singh dalam Sahara (2001) mengatakan bahwa fluktuasi harga yang tinggi di sektor pertanian merupakan suatu fenomena yang umum akibat ketidakstabilan (inherent instability) pada sisi penawaran. Pengaruh fluktuasi harga pertanian lebih besar bila dibandingkan dengan fluktuasi produksi. Keadaan ini dapat menyebabkan petani menderita kerugian dalam jangka pendek sehingga menimbulkan kurangnya keinginan untuk melakukan investasi di sektor pertanian atau petani akan beralih ke komoditas yang memiliki harga jual yang lebih tinggi. Selanjutnya banyaknya lembaga tataniaga yang terlibat dalam pemasaran hasil pertanian akan mempengaruhi panjang pendeknya rantai tataniaga dan besarnya biaya tataniaga. Besarnya biaya tataniaga akan mengarah pada semakin besarnya perbedaan harga antara petani produsen dengan konsumen. Hubungan antara harga yang diterima petani produsen dengan harga yang dibayar oleh konsumen pabrikan sangat bergantung pada struktur pasar yang menghubungkannya dan biaya transfer. Apabila semakin besar margin pemasaran ini akan menyebabkan harga yang diterima petani produsen menjadi semakin kecil dan semakin mengindikasikan sebagai sistem pemasaran yang tidak efisien (Tomek and Robinson, 1990).
Persoalan mutu dan harga hasil pertanian merupakan bagian dari masalah tataniaga hasil pertanian yang tidak dapat dipisahkan karena mempunyai dampak langsung terhadap pihak-pihak yang terkait dalam perdagangan hasil pertanian. Selain itu keberadaan lokasi lahan pertanian yang terpencar-pencar dan jauh dari pusat perekonomian yang mengarah pada terbentuknya rantai tataniaga yang panjang karena adanya peran hierarki dari pedagang perantara yang cenderung menambah kompleksitas upaya perbaikan mutu hasil pertanian. Analisis margin pemasaran digunakan untuk mengetahui distribusi biaya dari setiap aktivitas pemasaran dan keuntungan dari setiap lembaga perantara serta bagian harga yang diterima petani. Atau dengan kata lain analisis margin pemasaran dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi dari para pelaku pemasaran yang terlibat dalam pemasaran/disribusi (Tomeck and Robinson, 1990; Sudiyono, 2001).












II.                HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian

Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105′ sampai dengan
105′45′ Bujur Timur dan 5′15’ sampai dengan 6′ Lintang Selatan.
Mengingat letak yang demikian ini daerah Kabupaten Lampung Selatan
seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia merupakan daerah tropis.
Saat ini Kabupaten Lampung Selatan dengan jumlah penduduk 923.002 jiwa
(LSDA 2007), memiliki luas daratan + 2.109,74 km2 yang terbagi dalam 17
kecamatan dan terdiri dari 248 desa dan 3 kelurahan.

Wilayah Kabupaten Lampung Selatan mempunyai batas-batas sebagai berikut :

Utara
Berbatasan dengan kab. Lampung Tengah
Selatan
Berbatasan dengan Selat Sunda
Barat
Berbatasan dengan Bandar Lampung
Timur
Berbatasan dengan Laut Jawa


Desa Muji Mulyo Memiliki jumlah penduduk sebesar + 2152 orang. Dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 1002 orang dan penduduk perempuan sebesar 1150 orang. Dari jumlah penduduk tersebut, pendidikan terakhir dari mayoritas
Mata pencaharian penduduk di desa tersebut bervariasi, yaitu sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil), pedagang, petani, pertukangan, pensiunan, pemulung, dan jasa. Dari beberapa mata pencaharian tersebut yang paling dominan adalah sebagai petani, yaitu sebanyak 520 orang.

3.2 Metode Penelitian

3.2.1 Konsep Dasar dan Batasan Oprasional

Mencakup pengertian yang dipakai dalam memperoleh data dan juga melakukan analisis yang berhubungan dengan tujuan yang diteliti.

Proses produksi adalah suatu proses dimana berbagai faktor produksi saling berinteraksi untuk menghasilkan sejumlah produk terong.

Budidaya adalah suatu proses produksi on farm, dimana media budidaya adalah lahan, benih, dan alat-alat pertanian.

Jumlah benih adalah banyaknya benih per Kg yang digunakan petani untuk budidaya terong  tiap satuan luas.

Jumlah tenaga kerja adalah banyaknya tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi.

Jumlah pupuk adalah banyaknya pupuk yang digunakan dalam satu masa tanam terong.

Banyaknya pestisida adalah banyaknya mililiter pestisda ada Kg pestisida yang diperlukan dalam satu musim tanam terong.

Biaya produksi adalah biaya total yang dikeluarkan karena dipakainya faktor produksi baik secara tunai maupun diperhitungkan.

Penerimaan adalah jumlah hasil produksi terong dikaitkan dengan harga ditingkat petani diukur dalam rupiah (Rp).

Pendapatan adalah  penerimaan  usaha tani terong dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, diukur dalam rupiah (Rp).

Rasio margin keuntungan adalah suatu  perbandingan antara tingkat keuntungan yang diperoleh lembaga pemasaran dan biaya yang dikeluarkan dalam proses pemasaran.

Pendapatan  tunai adalah penerimaan usaha tani setelah dikurangi dengan biaya tunai, diukur dalam satuan rupiah.

Biaya total adalah seluruh biaya yang dikeluarkan petani untuk faktor produksi , baik secara tunai maupun diperhitungkan selama proses produksi, diukur dalam satuan rupiah.

Penerimaan adalah jumlah produksi dikalikan dengan harga yang berlaku, satuan pengukurannya dinyatakan dalam rupiah.

Pendapatan total adalah  penerimaan usahatani setelah dikurangi biaya total, diukur dalam rupiah (Rp).

Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan baik oleh petani produsen maupun lembaga pemasaran. Satuanya rupiah per proses pemasaran.

Lembaga pemasaran adalah unsur-unsur yang berperan dalam pemasaran dari petani kekonsumen akhir.

Marjin pemasaran adalah perbedaan jumlah rupiah yang diterima petani produsen dengan jumlah rupiah yang dibayar konsumen. Termasuk dalam margin pemasaran antara lain biaya pemasaran  dan keuntungan lembaga pemasaran yang berperan diukur dalm satuan rupiah.

3.2.2 Metode Penelitian dan Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh dengan survey atau wawancara langsung dengan petani, maupun orang-orang yang terlibat dalam lembaga pemasaran. Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuisioner.

3.3.3 Lokasi Penelitian

  1. Lokasi Penelitian Responden dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di DesaMujiMulyo, Kecamatan Natar, KabupatenLampung Selatan. Responden yang diambil adalah masyarakat petani berjumlah 5 orang yang berdomisili di kelurahan tersbut. Waktu penelitian adalah pada tanggal 20, dan 29 April 2012

3.3.4 Metode Analisis dan Pengujian Hipotesis

Analisis data yang digunakan adalah Analisis deskriptif (mengetahui bagaimana pelaksanaan manajemen pemasaran Terong di Desa MujiMulyo,Kecamatan Natar, Lampung Selatan mencakup bagaimana ikatan kelembagaan antar lembaga pemasaran, proses pembentukan harga, posisi tawar masing-masing lembaga pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar dan keragaan pasar) dan Analisis Statistik untuk mengetahui efisiensi pemasaran melalui :

1). Analisis Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran adalah selisih harga di tingkat petani produsen (Pf) dengan harga di tingkat konsumen (Pr) (Hasyim, 1994)

Rumus menghitung marjin pemasaran dan marjin keuntungan :
Mji = Psi – Pbi
Mji = Bti + p1
p1   = Mji – Bti
Total Marjin secara matematis :
Mj =  atau
Mj = Pr-Pf
Rasio Profit Marjin (RPM) (Azzaino, 1982) :
RPM
Keterangan :
Mji =  Marjin lembaga pemasaran tingkat ke-1
Psi =  Harga jual lembaga pemasaran tingkat ke-1
Pbi =  Harga beli lembaga pemasaran tingkat ke-1
p1   =  Keuntungan lembaga pemasaran tingkat ke-1
L    =  1,2,3,…,n
N   =  Jumlah lembaga pemasaran
Mj =  Total marjin pemasaran
Pr  =  Harga di tingkat konsumen
Pf  =  Harga di tingkat petani
Jika selisih RPM antara lembaga pemasaran sama dengan nol, maka system pemasaran efisien, dan sebaliknya. (Azzaino, 1982)
2). Analisis Koefisien Korelasi Harga
Secara matematis, koefisen korelasi harga :


Keterangan :
r = Koefisien korelasi harga
n = Jumlah pengamatan
Jika angka koefisien korelasi harga mendekati satu, maka keeratan hubungan harga pada kedua tingkat pasar terintegrasi sempurna yaitu sistem pemasaran bekerja secara efisien. Namun, jika koefisien korelasi harga mendekati nol, maka sistem pemasaran tidak efisien (Hasyim, 1994).
Pengujian terhadap nilai “r” :
0-0,20                                 =  sangat rendah (hampir tidak ada hubungan )
0,21-0,40                            =  korelasi rendah
0,41-0,60                            =  korelasi sedang
0,41-0,80                            =  cukup tinggi
0,81-1                                 = korelasi tinggi

3)                  Analisis elastisitas transmisi harga

Yaitu penggambaran sejauh mana dampak perubahan harga suatu barang di suatu tempat atau tingkat berpengaruh terhadap harga barang itu ditempat lain atau tingkatan lain (Hasyim, 1984).
Secara matematis, elastisitas transmisi harga :
Pr = Pf  + M………………………………………………………........……………(1)
Karena marjin pemasaran dianggap linear dengan harga di tingkat konsumen, secara matematis ditulis :
M = a + b P1…………………………………………………………………………..(2)

Persamaan (2) disubstitusikan ke dalam (1) :
Pr = Pf  + a b Pr
Pr - b Pr  =  Pf + a
(1-b) Pr = Pf +a


           = 1/b x (Pf + a)
Sehingga
Karena ET

Persamaan (3) disubstitusikan ke dalam persamaan (4)
                                                            Maka
Koefisien regresi (b) dapat dicari dengan menggunakan rumus :

Hubungan fungsional antara harga di tingkat petani dengan harga di tingkat konsumen secara matematis, ditulis :
                                            Pf  =  a + b Pr
Keterangan :
ET  =   elastisitas transmisi harga
    =   differensial
Pr  =   harga rata-rata di tingkat konsumen
Pf  =   harga rata-rata di tingkat petani produsen
A  =   konstanta atau titik potong
B  =   koefisien regresi
M =   Marjin pemasaran

Kriteria pengukuran pada analisis elastisitas transmisi harga :
ET = 1, berarti marjin pemasaran tidak dipengaruhi oleh harga di tingkat konsumen.  Artinya pasar yang dihadapi oleh seluruh pelaku pemasaran merupakan pasar yang bersaing sempurna.  Hal ini menandakan bahwa sistem pemasaran telah efisien.

ET > 1, berarti laju perubahan harga ditingkat petani lebih besar daripada laju perubahan harga di tingkat konsumen.  Artinya pasar yang dihadapi oleh seluruh pelaku pemasaran bersaing tidak sempurna, yaitu terdapat kekuatan monopsoni atau oligopsoni dengan kata lain sistem pemasaran berlangsung tidak efisien


ET < 1, berarti laju perubahan harga ditingkat petani lebih kecil daripada laju perubahan harga di tingkat konsumen.  Artinya sistem pemasaran berlangsung tidak efisien.











PEMBAHASAN

Petani Produsen
Tabel 1.
No
Nama

Umur (Th)

Luas Lahan (m)
Status Kepemilikan Lahan
Modal (Rp)
Hasil Panen (Kg)
1.
Kamisem
63
400
Milik sendiri
500.000
65
2.
Ragil 
74
20.000
Milik sendiri
20.000.000
3000
3.
Agus
37
10.000
Milik sendiri
6.000.000
1000
4.
Sugianto
51
2.500
Milik Sendiri
1.000.000
700
5.
Sulastri
45
300
Milik Orang Lain
200.000
15

B.  Pedagang

Table 2
No
Nama
Umur (Th)
Modal (Rp)
Asal Modal
Tingkat Pedagang
1.
Kuswandi
35
10.000.000
Sendiri
Besar
2.
Jarsia
32
300.000
Sendiri
Pengecer
3.
Tini
45
500.000
Sendiri
Pengecer
4.
Tuginem
37
400.000
Sendiri dan Bantuan
Pengecer
5.
jamilah
38
300.000
Sendiri
Pengecer

B.     Konsumen

No
Nama
Umur (Th)
Frekuensi Pembelian
(/bln)
Asal Pembelian
1.
Risma P
49
1 X
Pengecer
2.
Fatimah
32
4X
Pengecer
3.
Ratna
45
15 X
Pengecer
4.
Suprihatin
49
2 X
Pengecer
5.
Muji
38
8 X
Petani

A. Petani Produsen

Nama                           : Kamisem
Tempat/tanggal lahir   : Natar, 19 Agustus 1949
Jenis kelamin               : Perempuan
Alamat                         : Desa Mujimulyo, Muara Putih Kecamatan Natar

Gambaran umum usahatani, produksi, dan pemasaran

Usahatani yang dimiliki oleh Ibu Kamisem yaitu luas lahan 400 m2, dengan jumlah modal Rp. 500.000, modal tersebut merupakan modal sendiri.Beliau mulai berusaha petani terong 7 tahun. Ibu Kamisum dalam usahanya tidak melakukan pinjaman pihak lain,jadi beliau menjalankan usahanya dengan cara modal sendiri.Untuk biaya usaha taninya.beliau membeli benih seharga 35 rb/ kg untuk pupuk beliau menggunakannya sebesar 10 kg yaitu pupuk mutiara dan pupuk urea. Dan obat-obatannya menggunakan Starban dengan harga per ml yaitu Rp.23.000. Gandasi Buah juga digunakan beliau denganharga Rp. 10.000/botol ,lalu Gandasi Daun beliau mengeluarkan uang sebanyak Rp. 10.000/botol ,dengan menggunakan alat-alat pertaniannya beliau menggunakan cangkul dengan harga Rp.20.000,tang/ semprotan dengan harga Rp.180.000,golok dengan harga Rp.15.000,koretan dengan harga Rp.10.000 dan pisau pemotong Rp.15.000,dengan menggunakan tenaga kerja sebanyak 4 orang yang semuanya berasal dari dalam keluarga, jadi untuk upah tenaga kerjanya beliau hanya bersifat kekeluargaan. Sedangkan untuk produksinya sebesar 65 kg/panen dengan frekuensi 15 kali perbulan.

Dalam pemasarannya Ibu Kamisum menjual komoditas trersebut kepada pengepul dengan harga Rp. 1.500/kg. Cara pembayarannya dengan cara tunai oleh pedagang, pedagang tersebut datang sendiri ke petani produsen.


Nama                           : Drs. Ragil Sukandi
Tempat/tanggal lahir   : Kebumen, 11Juli 1938
Jenis kelamin               : Laki-laki
Alamat                         : Desa Mujimulyo, Muara putih

Gambaran umum usahatani, produksi, dan pemasaran

Usahatani yang dimiliki oleh Pak Ragil yaitu luas lahan 2 ha, dengan jumlah modal Rp.20.000.000, modal tersebut merupakan modal sendiri. Beliau mulai berusaha petani Terong 5 tahun. Pak Ragil dalam usahanya tidak melakukan pinjaman pihak lain, jadi beliau menjalankan usahanya dengan cara modal sendiri. Untuk biaya usaha taninya, beliau membeli benih seharga 30rb/kg untuk pupuk NPK beliau mnggunakannya sebesar 400 kg dengan harga Rp.540.000, pupuk urea sebesar 400kg yaitu denganharga Rp. 380.000, pupuk SP36 sebesar 300 kg dengan harga Rp. 240.000. Untuk obat-obatannya menggunakan Gibgro 10ml dengan harga per ml yaitu Rp.500, jadi untuk 10 ml beliau mengeluarkan uang sebanyak Rp.50.000, Contidor mnenggunakannya sebanyak 200 ml, harga per  ml yaitu Rp.500 jadi untuk 200 ml sebanyak Rp.100.000, lalu Dekaman beliau sebanyak 2 ml harga untuk per ml sebesar Rp.45.000 jadi untuk 2 ml beliau mengeluarkan uang sebanyak Rp.90.000. Untuk obat-obatan juga beliau menggunakan Antracol sebesar 4ml dengan harga Rp. 115.000 sehingga beliau mengeluarkan biaya sebesar Rp. 460.000. Beliau menggunakan alat-alat pertaniannya yaitu alat penyemprot seharga Rp. 1.500.000, alat bajak Rp. 1.500.000, selang Rp. 650.000, tangki sebesar Rp. 250.000 dan mulsa sebesar Rp. 1.280.000. Dengan menggunakan tenaga kerja sebanyak 10 orang yang semuanya berasal dari luar keluarga, jadi untuk upah tenaga kerjanya beliau memberi gaji sebesar Rp. 30.000/hari.

Dalam pemasarannya beliau menjual sendiri ke pedagang pengepul dengan harga Rp.1750/kg, cara pembayarannya dengan cara tunai oleh pedagang, pedagang tersebut datang sendiri ke petani produsen. Dalam memasarkan komoditas terong tersebut tidak terdapat hambatan. 

Nama                           : Agus
Tempat/tanggal lahir   : Metro, 17 Agustus 1985
Jenis kelamin               : Laki-laki
Alamat                         : Desa Mujimulyo, Natar

Gambaran umum usahatani, produksi, dan pemasaran

Usahatani yang dimiliki oleh Pak Agus yaitu luas lahan 1 ha, dengan jumlah modal Rp.6.000.000, modal tersebut merupakan modal sendiri. Beliau mulai berusaha petani terong 6 tahun.dalam usahanya tidak melakukan pinjaman pihak lain, jadi beliau menjalankan usahanya dengan cara modal sendiri. Untuk biaya usaha taninya, beliau membeli benih seharga Rp.240.000/ kg untuk pupuk beliau mnggunakannya pupuk SP3 dengan harga Rp.240.000/ kg .Pupuk NPK dengan harga Rp.270.000/kg, pupuk KCL dengan harga Rp. 350.000, pupuk urea dengan harga Rp. 360.000. Untuk obat-obatannya menggunakan Vitako  dengan harga yaitu Rp.115.000, Antracol dengan harga Rp. 115.000, dan Dekaman sebesar Rp. 90.000. Beliau  menggunakan alat-alat pertaniannya yaitu menggunakan cangkul dengan harga Rp.55.000, koret dengan harga Rp. 25.000, spryer dengan harga Rp.250.000, alkon dengan harga Rp. 1.500.000 dan selang sebesar Rp. 650.000. Beliau menggunakan tenaga kerja sebanyak 3 orang yang berasal dari dalam dan luar keluarga, untuk upah tenaga kerja dari dalam keluarga beliau hanya bersifat kekeluargaan.Sedangkan untuk produksinya sebesar 1 ton/panen dengan frekuensi panen 15 kali perbulan.

Dalam pemasarannya beliau menjual sendiri ke pedagang pengepul dengan harga Rp.1.500/kg, cara pembayarannya dengan cara tunai dan juga kredit oleh pedagang, pedagang tersebut datang sendiri ke petani produsen.

Nama                           : Sugianto
Tempat/tanggal lahir   : Lampung Selatan,10 September 1961
Jenis kelamin               : Laki-laki
Alamat                         : Desa Mujimulyo, Lampung Selatan

Gambaran umum usahatani, produksi, dan pemasaran

Usahatani yang dimiliki oleh Pak Sugianto yaitu luas lahan ¼ ha, dengan jumlah modal Rp.1.000.000,modal tersebut merupakan modal sendiri.beliau mulai berusaha petani terong 5 tahun. Dalam usahanya tidak melakukan pinjaman pihak lain,jadi beliau menjalankan usahanya dengan cara modal sendiri.untuk biaya usaha taninya.beliau membeli benih seharga Rp.30.000/ bungkus untuk pupuk beliau mnggunakannya pupuk kandang beliau menggunakannya sebesar 250/kg dengan harga Rp.1.500.000/kg dan obat-obatannya menggunakan urakror 400ml dengan harga /ml yaitu Rp.40.000.jadi untuk 400 ml beliau mengeluarkan uang sebanyak Rp.80.000, virtako mnenggunakannya sebanyak 400 ml,harga/ 100 ml yaitu Rp.200.000 dengan menggunakan alat-alat pertaniannya beliau menggunakan cangkul dengan harga Rp.15.000,tang/ semprotan dengan harga Rp.180.000,golok dengan harga Rp.20.000,koretan dengan harga Rp.10.000 berasal dari dalam keluarga ,jadi untuk upah tenaga kerjanya beliau hanya bersifat kekeluargaan.sedangkan untuk produksinya sebesar 7 kwintal /panen dengan frekuensi panen 15X per bulan
Dalam pemasarannya beliau menjual sendiri ke pedagang pengepul dengan harga Rp.1700/kg cara pembayarannya dengan cara tunai oleh pedagang,pedagang tersebut datang sendiri ke petani produsen.

Nama                           : Sulastri
Tempat/tanggal lahir   : TanjungSari, 23 Maret 1967
Jenis kelamin               : Perempuan
Alamat                         : DesaMujimulyo, Natar

Gambaran umum usahatani, produksi, dan pemasaran

Usahatani yang dimiliki oleh Ibu Sulastri merupakan usaha tani yang tidak berorientasi pada pasar karena Ibu sulastri hanya mengolah tanah milik orang lain, untuk pupuk, Beliau hanya menggunakan pupuk sisa dari petani terong lainnya, alat pertanian yang digunakan seperti cangkul dengan harga Rp. 15.000 dan koret  seharga RP 10.000, dan semprotan sebesar Rp.20.000

Dalam pemasarannya beliau menjual sendiri kepada para tetangga atau para pengecer, Beliau tidak menjual kepada pengepul karena hasil kopmoditas yang di hasilkan kurang begitu baik karena menggunakan obat-obatan yang sederhana.

B. Pedagang Pengepul dan pengecer

Nama                           : Kuswandi
Tempat/ tanggal lahir  : Blitar, 19 Mei 1977
Alamat                                    : Cipanas, Lampung Selatan

Gambaran umum usaha, modal , dan pemasaran

Jumlah komoditas usahatani yang diusahakan/diperdagangkan yang dimiliki oleh Pak kuswandi hanya terong. Dengan jumlah modal adalah Rp10.000.000
Untuk harga beli komoditas terong dengan harga Rp 1.500, seluruhnya didapat dari petani.
Untuk harga jual komoditas terong dengan harga Rp2000 sampai Rp. 2500, seluruhnya dijual ke pedagang eceran/ pedagang kecil.

Untuk biaya dibeli dari petani dan dijual ke pasaran dengan selisih Rp1000. Disini tidah ada perlakuan terhadap produk, jadi tidak ada biayanya. Tenaga kerja disini dari luar keluarga berjumlah 3 orang dan sudah termasuk supir 1 orang, dengan upah tenaga kerja Rp25.000 untuk kuli dan Rp50.000 untuk supir. Cara pembayaran produk yang dibeli dengan cara tunai dan Cara pembayaran produk yang dijual dengan cara tunai. Cara menetapkan harga jual/beli ditentukan harga pasar.

 Nama                          : Jarsia
Tempat/ tanggal lahir  : Tambak Sari, 15 Januari 1980
Alamat                                    :Sidoarjo, Lampung Selatan

Gambaran umum usaha, modal , dan pemasaran

Jumlah komoditas usahatani yang diusahakan/diperdagangkan yang dimiliki oleh ibu tarsia adalah 3 komoditas yaitu; terong, kol, dan timun. Dengan jumlah modal adalah Rp300.000
Untuk harga beli komoditas terong dengan harga Rp 2000, seluruhnya didapat dari petani.
Untuk harga jual komoditas terong dengan harga Rp2.500 sampai Rp.3.000, seluruhnya dijual kekonsumen akhir.

Untuk biaya dibeli dari petani dan dijual ke pasaran dengan selisih Rp500. Disini tidah ada perlakuan terhadap produk, jadi tidak ada biayanya.
Nama                           : Tini
Tempat/ tanggal lahir  : Tanjung Karang, 12 Januari 1067
Alamat                                    : Tegineneng, Lampung Selatan

Gambaran umum usaha, modal , dan pemasaran

Jumlah komoditas usahatani yang diusahakan/diperdagangkan yang dimiliki oleh ibu tini adalah 4 komoditas yaitu; terong, kol,kacang panjang dan timun. Dengan jumlah modal adalah Rp500.000
Untuk harga beli komoditas terong dengan harga Rp 2.500, seluruhnya didapat dari petani.
Untuk harga jual komoditas terong dengan harga Rp3.000/Kg, seluruhnya dijual kekonsumen akhir.

Nama                           : Tuginem
Tempat/ tanggal lahir  : -
Alamat                                    :Rawang Sari, Lampung Selatan

Gambaran umum usaha, modal , dan pemasaran

Jumlah komoditas usahatani yang diusahakan/diperdagangkan yang dimiliki oleh ibu tini adalah  komoditas yaitu; terong, kol,kacang panjang,Kembang kates dan timun. Dengan jumlah modal adalah Rp 350.000
Untuk harga beli komoditas terong dengan harga Rp 2.500, seluruhnya didapat dari petani.
Untuk harga jual komoditas terong dengan harga Rp3.000/Kg, seluruhnya dijual kekonsumen akhir.



Nama                           : Jamilah
Tempat/ tanggal lahir  : -
Alamat                                    :Negara Ratu, Lampung Selatan

Gambaran umum usaha, modal , dan pemasaran

Jumlah komoditas usahatani yang diusahakan/diperdagangkan yang dimiliki oleh ibu tini adalah 7 komoditas yaitu; terong, kol, kacang panjang, tomat, kangkung, kecambah dan timun. Dengan jumlah modal adalah Rp 400.000
Untuk harga beli komoditas terong dengan harga Rp 2.500, seluruhnya didapat dari petani.
Untuk harga jual komoditas terong dengan harga Rp3.000/Kg, seluruhnya dijual kekonsumen akhir.

C. Konsumen Akhir
Identitas responden
Nama                           : Risma P
Tempat/ tanggal lahir  : Palembang, 14 Juni1962
Jenis kelamin               ; Perempuan
Alamat                                    : Way Halim, Bandarlampug

Gamabaran Umum Pemasaran
Frekuensi pembaliannya perbulan dengan jumlah pembelian 1-2 kg terong. Harga per kg 3000. Cara pembayarannya memakai sistem tunai dengan membeli dari pegadang. Di sini terjadi  perbedaan harga antara produsen dan pedagang sebesar Rp 500.

Nama                           : Fatimah
Tempat/ tanggal lahir  : Jakarta, 14 Juni1980
Jenis kelamin               ; Perempuan
Alamat                                    :Rajabasa, Bandarlampug

Gamabaran Umum Pemasaran
Frekuensi pembaliannya perbulan dengan jumlah pembelian 1-2 kg terong. Harga per kg 3000. Cara pembayarannya memakai sistem tunai dengan membeli dari pegadang. Di sini terjadi  perbedaan harga antara produsen dan pedagang sebesar Rp 500.

Nama                           : Risma P
Tempat/ tanggal lahir  : Palembang, 14 Juni1962